Belajar (dengan) Bermain Bola

Selasa lalu, setelah acara pertemuan orang tua anak-anak di kantor RPA Kebon Kopi, kami kedatangan dua orang tamu: Kak Eva dan Kak Rizki. Kak Eva dan Kak Rizki ini adalah relawan dari Rumah Cemara, komunitas yang fokus memperjuangkan kesetaraan bagi saudara-saudara kita penderita HIV/AIDS dan rehabilitasi narkoba. Meski belum pernah berinteraksi langsung, saya sendiri sudah cukup lama dengar-dengar gosip tentang Rumah Cemara ini, bahkan hampir tiap hari lewat kantornya.

Kakak-kakak ini datang menawarkan diri untuk rutin melatih sepakbola anak-anak di Rubel Cimindi sebanyak dua kali seminggu. Tentu saja kami iyakan dengan riang gembira. Setidaknya ada tiga alasan kenapa kami harus gembira menyambut inisiatif baik dari kakak-kakak ini.

Alasan pertama, hampir semua anak di Rubel Cimindi senang main bola, nonton bola, dan bercita-cita jadi pemain sepakbola, wabil khusus pemain Persib.

Yang kedua, frekuensi kami untuk mengajar di Rubel semakin menipis. Kaderisasi yang mandek, relawan yang semakin berkurang, dan kesibukan yang semakin bertambah menjadi alasan standar. Kak Nunik dengan kesibukan kuliah, kerja, dan galaunya; Kak Dina yang sedang pusing-pusingnya nyekripsi dan kini pindah rumah ke Kiaracondong, sehingga agak sulit untuk melipir ke Cimindi; dan saya sendiri juga cukup kuwalahan membagi waktu antara tidur, main, nonton tv, ngupil, internetan, dan nongkrong :p. Tentunya kesediaan kakak-kakak Cemara sangat berarti untuk mengisi kekosongan kegiatan sementara.

Alasan ketiga, dari gosip yang saya terima, Rumah Cemara ini pernah mewakili Indonesia berlaga di Homeless World Cup, Piala Dunianya kaum yang tak berpunya. Meski sejak awal, Kak Rizki tidak menjanjikan anak-anak akan menjadi jagoan seperti Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi, tapi kakak-kakak ini tentu lebih ahli dalam urusan melatih bola daripada saya yang hanya jago melatih di game Football Manager atau Pro Evolution Soccer.

***

Latihan dimulai hari Rabu sore di lapang futsal belakang Rubel Cimindi. Saat saya datang, pemanasan sedang dimulai. Kak Eva dan Kak Eko memandu anak-anak di lapangan. Kak Rizki duduk di pinggir lapangan.

1

Menu latihan berikutnya adalah latihan passing. Latihan ini menggunakan dua bola secara bersamaan. Mungkin untuk melatih insting mengoper kepada kawan yang kosong.

 3

2 5

  4

6

Berikutnya, anak-anak dibagi menjadi dua tim yang saling berhadapan, dengan Kak Eva dan Kak Eko menjadi wasit.

7 8 9 a b c d

Sesi terakhir adalah sesi “berbagi rasa”. Dimulai dengan Kak Eko dan Kak Eva mengevaluasi permainan anak-anak sepanjang pertandingan. Kak Eko mengungkapkan pentingnya kerjasama tim dalam sepakbola, dan kerjasama ini bergantung pada kelancaran komunikasi antar pemainnya.

“… Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari, kerjasama dan komunikasi itu penting. Misalnya, kita bisa saling melindungi diri dan teman-teman kita dari tangkapan Satpol PP dengan kerjasama dan komunikasi”, tambahnya.

e i1

 i23423  i080823423

Dalam sesi berbagi rasa ini, setiap partisipan diajak untuk mengungkapkan perasaannya selama mengikuti kegiatan. Pastinya setiap anak merasa senang, dan berjanji akan mengajak lebih banyak kawan-kawannya yang lain untuk berlatih minggu depan.

i435435

g h
i

Satu hal yang kami sayangkan, kakak-kakak ini tak bisa ikut sesi kami berikutnya: Masak-masak dan makan-makan bersama! Semoga lain kesempatan ya!

i4

i5

Badewey, selamat menunaikan ‘ibadah puasa, teman-teman! Semoga kita diberi kekuatan menahan diri dari godaan rasa lapar akan kekuasaan dan rasa haus akan pujian, di bulan ramadhan ini dan bulan-bulan berikutnya!

Jabat erat!

Fajar.

i808

Iklan

Antara Aku dan Dirimu

Reportase kegiatan berenang Rubel Cimindi, 15 Agustus 2013

“Kakak….Kakak… Jadikan renangnya … Kakak….kakak….”

Begitulah panggilan anak-anak dengan nada riang mengagetkan saya siang itu. Ya, saya hafal betul suara-suara itu datangnya dari suara anak-anak Rubel… ( Suara Cemprengnya Khas :p )

Hari ini ( 15 Agustus 2013 ) Saya dan Kak Dina berencana akan mengajak mereka berenang kembali ke Tirtayuda Cimahi. Tepat pukul 13.30 WIB, anak-anak Rubel sudah siap untuk berangkat. Setelah adu tawaran harga dengan mang angkot, akhirnya mereka siap untuk melaju ke kolam renang. “Horeeyyy…. sorak soray bergembira ^_^ “

Renang kali ini cukup tertib, mereka sudah pandai menyimpan baju ganti sendiri, dan berganti baju Renang (kaos & boxer/celana pendek ) di tempat ganti. Dulu yang saya lihat beberapa dari mereka ada yang asal ganti baju dan celana dimana saja. Entahlah…..padahal tempat ganti baju dan WC itu jaraknya dekat.

ah… namana ge barudak meren nya,,,” celetuk saya dalam hati.

Seperti baru melihat air, mereka tanpa berfikir langsung menyerbu kolam, yang bisa jadi kolam itu sekitar berapa yaaa panjang dan lebarnya…?…hmmm…aduhh lupa, saya tak sempat ukur kolam renangnya saat itu , 😀

Ada yang so’soan pake gaya Titanic, dari atas nyebur ke bawah. Ada yang asyik berenang sambil naik ke Ban ( eta ban anu saha deuih nya si ucup -_- ) dan ada yang coba-coba jailin temennya.

1175755_602856259745782_2046086693_n

            “ah…. kalian membuatku jatuh cinta setengah mati 😀 “

            Apapun kalian, dan siapapun kalian, kalian tetaplah anak-anak manusia yang luar biasa. Walaupun “kalian” terpisah, dekil, dan tak banyak berbicara ( tapi kadang-kadang juga cerewet :p ). Bagi saya setiap kali bertemu dan berkomunikasi dengan mereka, selalu tumbuh rasa takjub serta syukur yang teramat sangat.. ( sedikit curhat, tapi terimakasih para malaikat jalananku 🙂 )

Satu lagi, Iwan yang (sebenarnya tidak) Nakal. Di pertengahan kegiatan berenang itu saya dan kak Dina sedang asyik bercengkrama dan mencari-cari ide-ide brilian untuk materi belajar bersama anak-anak.. Iwan yang berusia kurang lebih 8tahun itu melambai-lambaikan tangannya ke arah kami.

kenapa Iwan ? “ tanya ku heran

kadieu gera kak… kadieu…!” ucap iwan sambil tangannya memegang dada akibat kedinginan.

Saat itu posisi Iwan sedang berada di tempat ganti pria.

Iwannya kesini aja” ajak kak Dina

ihhhh…kakak na nu kadieu geura, kadieu heula…” rengek Iwan.

Lama tak kami perhatikan, Iwan menarik tangan dan mengajak saya untuk masuk ke dalamnya. (ehhh, eta budak, ieu teh pan tempat ganti baju laki-laki ) ucap saya dalam hati.

Entahlah iwan kenapa, yang saya takutkan sedang terjadi atau telah terjadi sesuatu di dalam sana atau terjadi sesuatu dengan dirinya ( ahh.. lebay 😀)

Saya berhenti dan bertanya kembali, “ai Iwan kenapa? Ada yang sakit ?

1005474_602856149745793_1725691380_n

Dengan badan menggigil kedinginan, di tarik saya ke bawah hingga posisi badan saya sepantar dengan tingginya, Iwan berbisik pelan “kakak… Onong abi kamana ? kamana Onong abi nya kak ? naha jadi euweuh?

Sontak, saya dan kak Dina tertawa terpingkal-pinkal karena lihat kepolosan dan tingkahnya anak paling kecil yang satu ini. ( iwan..iwan… gening inget keneh eta ka nu onong…)

karna memang tak bisa lagi untuk ditahan, akhirnya saya dan kak dina memutuskan untuk ceritanya membantu mencarikan onongnya tersebut. Bagi kami melihat adik-adik kami yang masih betah berlama-lama dengan mainannya yang disebut onong (sejenis lem aibon untuk perekat sepatu yang jebol ). Membuat kami termotivasi untuk terus bergerak membantu agar mereka tidak berlarut-larut mengkonsumsi si Onong tersebut ( tetap semangat ya kakak kakak 🙂 )

ehhhh… tak lama kemudian ucup salah satu anak Rubel sahaja Cimindi menginfokan kalau onongnya si iwan ada di si bitsu, ( jadi, si iwan lupa tuh.. kalau onongnya itu dititipin ke si bitsu, hadeuhh… )

1174953_602855723079169_1159367145_n

 “makasih kakak.. onong ku sudah ada yaa 🙂 “

Yaaa… itulah sepenggal ceritaku di malam ini, Ceritaku bersama mereka yang kurang lebih 2 tahun . Baunya, Dekilnya dan Polosnya mereka yang selalu membekas di hatii.

Entah mengapa, kalian begitu membuat aku jatuh cinta, jatuh cinta setengah mati..

Mungkin selama ini kalian lah yang telah menginspirasi hidupku menjadi lebih baik dan lebih banyak bersyukur. Dan mungkin menginspirasi bagi diriku itu bukan tentang melakukan hal besar atau hal yang serupa. Namun inti dari menginspirasi adalah yaitu, memenuhi panggilan jiwa walaupun dimulai dari hal yang terkecil dan dipandang sebelah mata 🙂

( Nuraliah )

Buka Bersama di Masjid Al-Musyarofah

Sabtu, 3 agustus 2013 anak-anak rumah belajar Cimindi diundang untuk buka bersama di masjid Al-Musyarofah Cimahi. Acara yang diadakan oleh rekan nya Teh Ipit (Koordinator Rubel) ini diikuti juga oleh anak-anak rumah belajar cimahi serta para anak yatim di sekitar wilayah tersebut. Sebenarnya ini bukanlah acara buka bersama pertama yang diikuti para anak-anak Rubel Cimindi ini, karena di hari-hari sebelumnya pun anak-anak sudah sibuk dibanjiri acara buka bersama yg diadakan oleh komunitas ataupun segelintir orang yang berbaik hati. Alhamdulillah rezeki dan berkah di bulan ramadhan.

Lanjut lagi ke cerita Bubar di hari sabtu, para anak-anak yang sedang santai dan bermain di singgasananya tiba-tiba beranjak semangat ketika saya bilang akan ada acara buka bersama di luar. Mereka langsung “nyampeur” anak-anak lain yang sedang beredar di jalanan untuk kumpul di rubel.  Dan yang terkumpul untuk ikut hanya ada 7 orang diantaranya Agus, Cepi, Bul-bul, Ucup, Dani, Galang dan Bitsu. Anak-anak ini pun bersiap-siap dan mandi terlebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi acara.

Sesampainya di masjid Al-Musyarofah, anak-anak langsung bergabung dengan anak-anak rubel cimahi mendengarkan tausyiah dari pak ustadz. Lima menit awal mereka masih duduk manis mendengarkan namun lima menit selanjutnya anak-anak itu sudah kelihatan tidak betah. Memang sifat anak-anak itu ngga bisa diem dan aktif, mereka pun langsung mencari-cari cara untuk bisa keluar. Awalnya Agus menanyakan toilet dimana, saya kira hanya agus sendiri yang pergi ke toliet ternyata anak-anak yang lainnya pun mengikuti si agus ini. Beberapa menit sudah lewat, tapi Agus dan kawan-kawan tidak juga kembali, selidik eh selidik ternyata mereka buat acara sendiri di lapangan mesjid. Mereka bermain bola, dan entah darimana mereka mendapatkan bola sepak itu. Haha. Kami para kakak2 pun tidak  bisa melarang ataupun memaksakan mereka untuk tetap diam duduk manis mendengarkan tausyiah, selama tidak mengganggu acara dan mereka senang kamipun membiarkan mereka bermain bola.

Acara yang ditunggu –tunggu anak-anak pun tiba, yaitu acara buka bersama dan pembagian bingkisan. Untuk acara yang satu ini anak-anak bersemangat sekali sampai2 Cepi dg wajah tidak tenang bertanya-tanya terus ke Kak Dila, Apa dia bakal dapet bingkisan ato ngga sambil matanya melihat ke arah  bingkisan yang sudah dituliskan nama anak masing-masing, hingga dia menemukan bingkisan yang bertuliskan namanya wajahnya kembali tenang dan gembira sambil bilang “Yes. Eta bingkisan keur urang mah aya”. Tidak mau kalah anak-anak yang lain pun ikut mencari-cari bingkisan yang bertuliskan namanya. Selain bingkisan mereka pun mendapatkan amplop yang berisikan sejumlah uang, lucu dan kocak sekali kelakuan mereka saat menebak-nebak berapakah jumlah uang yang ada di dalam amplop. Mereka memegang amplopnya ke atas sambil menerawang dan mengira-ngira jumlahnya. Terlihat rasa senang dan gembira dari wajah-wajah mereka. Kelakuan mereka membuat kami tertawa dan ikut larut dalam kegembiraan yang mereka rasakan. 😀

Setelah acara usai, kami para kakak-kakak sedikit usil dan “ngahereyan” anak-anak, kami bilang pada anak-anak untuk pulang sendirian karena mereka sudah punya uang sendiri dari amplop pemberian tadi. Terlihat rasa keheranan dan kekecewaan dari wajah mereka. Mereka pun langsung menolak dan membela diri sampai Ucup dengan polosnya bilang “Atuh ka, pan ieu mah (sambil megang amplopnya) jang mamah ” . Ketika itu terlihat wajah polos seorang anak kecil yang begitu tulus ingin memberikan sesuatu untuk mamah dan keluarganya. Bahkan ucup pun meminta bingkisan lagi pada kami “kakak ai jang teteh abi mana?”. Bayangkan anak sekecil Ucup yang kira-kira berumur 10 tahun sudah punya fikiran seperti itu, kalo saya mungkin waktu seumuran ucup masih suka menuntut dan meminta sesukanya pada orang tua. Jadi malu sama diri sendiri dan hari itu saya belajar dari mereka, lewat celetukan polos si Ucup kecil 🙂

Terimakasih untuk para ibu,bapak, kakak dan para dermawan yang sudah mau berbagi bersama kami para anak-anak Rubel Cimindi. Semoga kebaikan kalian dibalas berlipat ganda olehNya.Aamiin. Jangan lupa Bulan Ramadhan tahun depan ajak-ajak kami lagi ya.hehehe :D.

IMG_20130804_114951

Anak-anak Rubel Cimindi di acara buka bersama

(Dini Riyanti)

Tahun-tahun yang Bersahaja, Penuh Cinta, dan Kegilaan

x

Sabtu 6 juli, di Atap Pasar Ciroyom, Rubel Ciroyom merayakan ulang tahunnya yang ke-4. Saya baru tau info ini sehari sebelumnya dari Nunik. Sedikit menimbulkan kebingungan pengaturan jadwal buat saya, pasalnya ada beberapa kegiatan yang sulit untuk dilewatkan. Mulai dari mengerjakan laporan KKN dan tantangan bertanding PES di Posko Setiamanah, menghadiri diskusi tentang konflik agraria di Gedung Indonesia Menggugat, janjian dengan mahasiswa dari SBM ITB untuk rencana acara buka bersama, hingga menonton pertandingan Persib.

Alkisah, ba’da maghrib, sampailah saya di Atap Pasar. Selain relawan-relawan dari jejaring Rubel Sahaja Ciroyom-Cihampelas-Cimindi (sayangnya Cimahi tidak hadir), ternyata acara ini dihadiri juga oleh komunitas-komunitas lain yang sama-sama peduli dengan anak jalanan. Ada komunitas Taman Harapan, Rumah Mimpi, komunitas Gerbang, dsb. Acara berlangsung cukup ramai dengan berbagai penampilan musik, puisi, debus, sulap, dan sebagainya. Rubel Cimindi pun turut berpartisipasi dengan 2 lagu: Anak Merdeka dan Kami Ada.

Setelah acara, saya, Tarjo, Beni, dan Ari menyempatkan ngobrol-ngobrol di teras masjid pasar Ciroyom. Dari obrolan yang sedikit ngalor ngidul kami mengevaluasi perjalanan kami. Pertemanan yang dimulai di ruangan pinjaman dari Koperasi Pasar Ciroyom sebagai tempat belajar Rubel Ciroyom 3 tahun lalu. Tarjo bercerita bahwa satu hal yang membuat dia awalnya tertarik untuk menghampiri dan mengajak saya ngobrol adalah kaos “Food Not Bombs” yang saya pakai saat itu. Saya juga masih ingat rambut gimbal dan ngeheknya dia menggombali satu per satu perempuan di ruangan itu. Masih ingat pula bagaimana polosnya Ari mengajak saya berkenalan disambung pertanyaan pertamanya: “Kak, tuhan itu ada gak sih? Untuk apa sholat?”. Serta Beni yang dulu selalu terlihat dingin tanpa ekspresi wajah, namun tangan yang tak mau diam membuat sesuatu (kemarin ia membawa ‘ukulele elektrik’ rakitannya). Masing-masing kami masih tidak percaya bisa bertahan se-lama ini, dalam derasnya arus keluar-masuk relawan. Satu hal yang kami syukuri adalah paling tidak kami masih merasakan panggilan nurani untuk kembali ke rumah ini, meski tidak se-militan dulu karena berbagai alasan.

Sepanjang perjalanan pulang saya berfikir. Komunitas ini memang dihuni orang-orang hebat. Tidak mudah mengurus anak-anak jalanan, begitu celoteh Tarjo yang terlihat kesal saat menertibkan anak-anak dalam acara kemarin, maka mereka yang mengklaim bisa mengatur masyarakat akan kami anggap omong kosong kalau untuk hidup bersama anak-anak jalanan saja enggan. Itulah yang membuat presiden, pemerintah, walikota, dinas sosial, aktifis politik, pemuka agama, partai politik tidak ada apa-apanya di mata saya. Saya lebih kagum dengan relawan-relawan di sini. Hengki, Siska, Inun, Ipit, Santi, Dewi, Anu, Alimin, Adi, Mimih, Babeh, dan relawan hebat lainnya serta kawan-kawan yang sekarang sedang meniti langkah bersama saya di Cimindi.

Dina yang rela berjalan kaki dari Pal-3 ke Cimindi saat menjemput anak-anak ke Ciroyom kemarin karena tidak mungkin menembus macetnya lalu lintas menggunakan angkot, militansi Nunik yang tidak perlu dipertanyakan lagi sejak dia berpakaian ‘putih-biru’ hingga kini telah menanggalkan pakaian ‘putih-abu’. Dila yang walaupun keberadaannya di Rubel Cimindi belum genap 1 bulan namun selalu menyempatkan waktu berkunjung ke Rubel meski mungkin kondisinya lelah setelah seharian bekerja sebagai karyawati di sebuah industri farmasi, Pak Maman bapaknya Agus yang meski sekujur tubuh penuh tato dan alkohol menjadi konsumsi bersama teman-temannya setiap akhir pekan ternyata memiliki keikhlasan untuk berkeliling setiap malam ke jalanan sekitar Cimindi menjemput anak-anak agar segera tidur di Rubel dan tidak berkeliaran di jalanan terlalu malam, seakan tak akan lelap tidurnya sebelum memastikan anak-anak aman berada di Rubel. Nuraliah dengan kepolosan dan ide-ide liarnya, Nurul Junun, Dini, serta kawan-kawan lain yang sempat menjejakkan kakinya di Cimindi dan selalu saya nantikan kembalinya.

Tak akan terlupakan bagaimana keikhlasan mereka mengurus administrasi Rumah Sakit yang ribet serta bergiliran siang malam berada di rumah sakit menjaga anak jalanan yang entah kemana orang tuanya, mengurusi jenazah dari menuntun melafazkan kalimah thayyibah di akhir hembus nafasnya hingga memandikan, menyolatkan, dan menguburkannya. Bolak-balik mengurus akte kelahiran dan persyaratan administrasi agar anak didik kami dapat merasakan bangku sekolah dan berseragam putih-merah seperti teman-teman seusianya, serta keribetan-keribetan lainnya. Hebatnya semua itu mereka lakukan TANPA BAYARAN APAPUN!! Bukan demi uang, bukan demi gelar narsis “Relawan” atau “orang berjiwa sosial”, bukan untuk pencitraan dalam kampanye partai politik. Mengorbankan waktu, masa muda, tenaga, pikiran, bahkan kadang harus patungan uang tanpa ada imbalan apapun. Bukankah ini tolol?

Kira-kira apa yang membuat mereka setolol ini? Mungkin kata Tarjo benar: Cinta. Seperti kata Agnes Monica: “Cinta kadang tak kenal logika” seakan membenarkan Nietzsche bahwa “Selalu ada kegilaan dalam cinta, namun selalu ada alasan dalam kegilaan”. Seperti Qays si Majnun yang tiba-tiba menjadi tak terkendali saat berhadapan dengan Layla pujaan hatinya. Ya, jatuh cinta berarti menyerahkan diri untuk menjadi ‘gila’. Setidaknya ayat-ayat kauniyah berupa penelitian neurosains modern mempertegas hal ini.

Seseorang yang sedang jatuh cinta memiliki kadar neurotransmiter dopamin yang cukup tinggi. Dopamin adalah suatu senyawa di otak yang menimbulkan rasa senang, bahagia, bersemangat, dsb. Kadar dopamin yang tinggi inilah yang menyebabkan energi yang meluap-luap, berkurangnya kebutuhan tidur atau makan, kreatifitas yang meningkat, dan perhatian yang terfokus, serta perasaan senang yang indah terhadap berbagai hal pada hubungan cintanya. Mungkin seperti sepasang kekasih yang tidak akan merasa lelah berjalan berjam-jam atau berkilo-kilo meter bersama-sama atau keberanian yang tiba-tiba muncul untuk menghajar siapapun yang mengganggu sang kekasih. Senyawa ini pula yang memberikan efek adiksi/kecanduan dan dapat menyebabkan kegalauan saat kadarnya menurun.

Berbanding terbalik dengan dopamin, kadar serotonin (neurotransmiter yang memberikan efek nyaman dan tenang) pada otak orang yang sedang jatuh cinta berada di level rendah dibanding kondisi normal. Kondisi inilah yang membuat perilaku orang yang sedang jatuh cinta cenderung aneh dan tak dapat mengontrol perilakunya (salah tingkah) ketika berada dihadapan orang yang dicintai. Muncul ketakutan seperti takut kehilangan, khawatir, cemas, dsb. Bahkan menurut penelitian Dr. Donatella Marazatti (1999), kadar serotonin pada orang yang jatuh cinta hampir mendekati rendahnya kadar serotonin pada penderita gangguan obsesif-kompulsif. Ada obsesi atau keinginan terhadap sesuatu dan ada dorongan (kompulsi) untuk berulang-ulang melakukan suatu hal untuk mengurangi rasa cemas akan obsesi tersebut. Penderita gangguan obsesif kompulsif ini kemudian menderita depresi berkepanjangan akibat merasa stres dengan kondisi yang dialaminya.

Sedemikian tipis batasan antara jatuh cinta dan kegilaan. Ini jawaban yang saya temukan pada pertanyaan tentang keikhlasan relawan-relawan sahaja tersebut. Yang kita butuhkan memang bukan sekedar pendidikan dan kesetaraan status, namun cinta! Cinta yang membuat kita menjalani hidup dengan ikhlash sekaligus spontan dan menggebu-gebu. Amor fati, kata Nietzsche (lagi-lagi si kumis ini!). Menjadi gila berarti kita menjadi berbeda dengan mayoritas (tidak normal). Menjadi gila berarti memisahkan diri (secara hakikat) dari masyarakat kerumunan, masyarakat ternak dan dombawi yang hanya bisa ikut instruksi penggembala. Memandang dunia dari kacamata yang berbeda, karena mengikuti pola pikir mayoritas akan menyesatkan kita dari jalan-Nya. Demikian kutipan dari kitab suci yang saya yakini (QS Al-An’am:116).

Sebelum tulisan ini menjadi semakin ngalor ngidul, sekali lagi mungkin perlu saya ucapkan terimakasih kepada seluruh relawan, anak-anak, dan semua pihak yang terlibat dalam ke-Sahaja-an untuk tahun-tahun yang telah terlewati ini. Untuk setiap pengorbanan dan inspirasi yang kadang membuat diri ini malu tidak bisa banyak berbuat dan belum bisa memberikan apa-apa selain bacot-bacot tak berguna. Terimakasih! Maaf belum benar-benar bisa memberi manfaat dan izinkan saya untuk tetap bersama kalian, meski dalam waktu yang tak tentu. Saya masih ingin belajar dari kalian!

Semoga semua kebersamaan ini tidak akan berakhir, bahkan ketika eksistensi label Rumah Belajar Sahaja telah rata dengan tanah, semoga silaturahmi tetap bisa kita jaga. Seperti kata Beni menutup obrolan tadi malam: “Bagaimanapun juga pada akhirnya kita akan terpisah, karena pada dasarnya setiap kita bukanlah bagian hakiki dari yang lainnya. Hanya diri kita-lah yang kita miliki dan akan selalu bersama kita. Tapi semoga kebersamaan selama ini, ingatan, memori, kedekatan emosional, bahkan karakter masing-masing yang telah kita pahami dari setiap kita akan menyatukan kita kembali”.

(Fajar)

barudakcimindi

Berwarnanya Cantigi oleh Para Malaikat tak Bersayap

cantigi (Oleh: Nunik Karina)

Sabtu (25 Mei), suasana istana kami nampak berbeda. Sedari kemarin, para malaikat kecil ini telah sibuk menyiapkan perbekalan mereka masing-masing. Mulai dari baju, boxer (celana pendek), bola, dan tak ketinggalan teman setia mereka: onong (lem aibon). Mereka tampak bersemangat dan ceria hari itu. Yah, karena sabtu ini agenda belajar kami berbeda dari minggu-minggu sebelumnya. Para rubellions akan berkemping bersama kakak-kakak PALAKS (Pencinta Alam & Aktivis Sosial).

Ketika salah seorang panitia mengabariku bahwa mereka sudah siap di istana Cimindi, seperti biasa, aku masih nempel di rumah, hingga akhirnya aku memutuskan untuk stay di Rubel Cimahi. Ku alihkan tugasku pada sobat karib, alias “Nurul Junun”. Begitu lama aku menunggu bersama anak-anak Cimahi, hingga akhirnya mobil yang ditumpangi anak-anakpun tiba. Kami pun memulai petualangan hari ini. Seperti biasa, celotehan dan guyonan anak-anak membuat kami semua yang ada di angkot itu tertawa. Perjalanannya lumayan jauh, hingga membuat anak-anak tertidur pulas.

Sesampainya di Cantigi, kami disambut kakak-kakak PALAKS yang ramah-ramah. Terlihat raut wajah anak-anak yang begitu berbinar ketika melihat hamparan lapang yang luas. Tak usah tunggu aba-aba, merekapun langsung mengambil bola dan memulai pertandingan. Layaknya para pemain timnas, tapi menurutku anak-anak ini jauh lebih bersemangat daripada pemain timnas. hehe

Aku pun larut dalam permainan itu, hingga Ilham, salah satu rubelion menghampiriku dan panitia yang lain dengan polosnya dia berkata: “Kak, abdi mah isukan rek naek lolipop” (Basa Sunda, yang kira-kira artinya: “Kak, besok saya akan naik lolipop”). Sontak kami pun berpikir keras apa yang Ilham katakan. Usut diusut, ternyata yang dia maksud adalah ‘flying fox’. Sungguh unik anak-anak ini. Mukanya yang poltados (polos tanpa dosa) membuat kami semua tertawa karena geli.

Malampun menghampiri kami. Para kakak-kakak PALAKS membagikan sleeping bag pada tiap anak. Betapa konyolnya tingkah mereka. Setiap anak sibuk memakainya, malah ada yang bermain lompat-lompatan seperti pocong. Bukannya pada tidur malam itu malah seperti pesta. Haha.. Akhirnya aku, Nurul, dan Teh Santipun tidur. Kami biarkan anak-anak itu berulah sesuka hati mereka.

Pagi-pun tiba. Anak-anak sudah kelaparan. Itu terlihat dari raut wajah mereka dan celotehan mereka. Setelah menyantap sarapan, anak-anakpun mengikuti permainan-permainan yang disusun oleh panitia. Baru saja satu permainan, tiba-tiba Agus pundung, dan seperti biasa, dia memprovokatori anak-anak yang lain, tapi untungnya ada Teh Santi yang dengan sigap mengambil anak-anak yang lain. Permainanpun dilanjutkan dengan naik flying fox. Anak-anak itu terlihat sangat senang, tetapi setelah sampai di atas, wajah mereka yang awalnya sumringah menjadi pucat pasi karena takut. Bahkan ada beberapa anak yang gak jadi meluncur.

Kami semua tertawa ketika Bagja turun dari tower karena ketakutan. Sebelum pulang, kami duduk membuat lingkaran sembari makan es krim bareng dan membagikan souvenir untuk anak-anak. Saat itu adalah masa-masa yang paling menyenangkan, karena pada hari itu seperti tak ada jarak di antara kami. Dan senyuman anak-anak membuat kami semakin yakin bahwa mereka adalah ilmu yang harus kita pelajari.

Semoga kemping kali ini bukan yang pertama dan yang terakhir yah. Semoga kita semua bisa kemping lagi dengan kakak-kakak yang lebih banyak lagi.

Makasih yah buat kakak-kakak PALAKS yang udah ngajakin kita kemping. Semoga ga kapok 🙂

* Foto-foto menyusul

Kata Pak Kumis, Hidup Tanpa Musik Akan Menjadi Sebuah Kesalahan

“Without music, life would be a mistake” –Friedrich W. Nietzsche

Sekitar sebulan lalu, kami mendapat undangan dari Inkom Unjani untuk tampil di acara charity untuk pre-event Unjani Fest 2013. Rabu (17 April) lalu, kami pun merapat ke Unjani untuk memenuhi undangan tersebut. Saya ditemani Arif, bersama 10 bebenyit (termasuk Ines dan Alya) berangkat dengan menyewa angkutan kota Cimahi-Cimindi.

Setelah berbagai artis pembuka selesai dengan gilirannya masing-masing, kami pun naik panggung sebagai bintang tamu pada puncak acara. Panggung berukuran mini tersebut pun seketika menjadi ricuh dipenuhi 8 makhluk kecil yang berebut mikrofon. Saya menemani anak-anak naik panggung sebagai penggenjreng gitar karena anak-anak belum ada yang bisa bermain gitar, sementara Arif duduk di kursi sambil mengasuh Alya dan Ines.

Walaupun ini pertama kalinya mereka tampil bernyanyi di atas panggung, namun tampaknya mereka tidak terlalu tegang dan cukup menikmati momen tersebut. 3 lagu pun dihajar habis, dari mulai lagu legendaris anak-anak jalanan: “Ku rela”, hingga medley lagu “Anak Merdeka” dan “Kami Ada”.

rubel-inkom-3 rubel-inkom-1 rubel-inkom-2

***

Saya termasuk orang yang percaya bahwa musik memiliki daya revolusioner yang cukup tinggi. Setidaknya buat saya sendiri. Sebutlah ini lebay. Saya hanya tidak bisa membayangkan, bagaimana saya sekarang kalau sekitar 10 taunan yang lalu saya tidak pernah mendengar lagu-lagu Superman is Dead*. Mungkin sekarang saya hanya jadi remaja borjuis dengan kehidupan yang membosankan, mungkin saya tak akan pernah melirik apalagi tertarik dengan kolektif-kolektif semacam Rubel Sahaja dsb, dan yang pasti saya tak akan pernah membentuk band punk rock. Tapi begitulah musik punk rock saat itu bisa merubah cara saya memandang dunia secara cukup drastis.

Hal semacam itulah yang ingin saya coba transformasikan kepada anak-anak di Rubel. Meski percobaan saya selama 3 tahun di Rubel Cimahi belum sepenuhnya berhasil, namun saya masih cukup optimis. Asumsi dasarnya adalah (hampir) semua orang menyukai musik, tak peduli bagaimana kemampuannya bernyanyi dan memainkan instrumen, namun setiap orang (hampir) pasti menyukai musik (kecuali sebagian besar penganut Islam salafy-wahaby mungkin).

Platon, sang filsuf Yunani klasik, menempatkan musik sebagai salah satu komponen yang cukup penting dalam filsafat pendidikannya. Bahkan ia pernah bilang bahwa jika ingin melihat karakter para pemuda dalam suatu bangsa, maka dengarlah musik yang sedang ngehits di bangsa tersebut. Maka dengan mendengar sekilas lagu-lagu yang sedang populer di Indonesia saat ini, kita bisa tebak bagaimana karakter sebagian besar anak-anak muda di sini. Berkaca dari konsep itu, saya harus banyak memperkenalkan lagu-lagu dengan lirik dan nada yang mampu dipahami dan membuat anak-anak belajar dari lagu tersebut.

Kendalanya adalah tidak semua anak-anak di Rubel tertarik untuk mendalami musik. Meski beberapa anak sudah meminta diajari bermain gitar, itupun belum terlalu serius dan belum benar-benar ingin bisa. Selain itu, sebagian anak di Rubel berkarir sebagai kusir kuda, anak-anak lainnya mengamen hanya dengan bersenjatakan kecrek yang dibuat dari tumpukan tutup kaleng lem aibon yang dipaku pada sebilah kayu, bahkan kadang hanya bernyanyi sambil bertepuk tangan saja.

Namun tentunya saya tidak memaksa mereka untuk belajar musik kalau mereka tidak tertarik. Cukup di sekolah-sekolah formal saja anak-anak dipaksa menguasai sesuatu yang tidak ingin mereka kuasai. Upaya yang saya lakukan hanyalah memainkan gitar sendirian di pojok Rubel. Kadang mereka bergabung ikut bernyanyi, kadang request lagu, kadang minta diajari. Di situlah saya memasukkan amunisi dengan menyanyikan lagu-lagu yang liriknya berisi pesan-pesan tertentu. Kadang saya jelaskan maksud dari lirik lagu tersebut, seperti saat saya mengajarkan lagu “Anak Merdeka” kepada mereka.

Oh iya, ini lirik lagu yang biasa kami nyanyikan:

Ku Rela (Anak Jalanan)
dipopulerkan oleh Fady

Kurela nasibku begini
Lahir kedunia seorang diri
Ayah ibu telah lama pergi
Hidup yang sulit kujalani

Di kota ini ku sendiri
Cari nafkah tuk sesuap nasi
Di terik panas aku tak peduli
Jual koran tuk hidupi diri

reff:
Terasa pedih melihat mereka
Yang sibuk bersekolah
Sedangkan aku anak jalanan
Suram masa depan

Kadangku dicaci dan dimaki
Kuhanya bagai sampah kota ini
Hujan panas kuberatap langit
Siang malam kemanaku pulang

Terkadang hatiku bertanya
Mengapa ayah ibu begitu tega
Meninggalkanku sebatang kara
Tanpa sanak dan tanpa saudara

Anak Merdeka
dipopulerkan oleh Marjinal

Aku ini anak merdeka
tak berpunya, tapi berhati kaya
semua di dunia milik bersama
tuk dibagi secara adil dan merata

Kubawa-bawa matahariku
ku bagi-bagi layaknya roti
semua mendapatkannyaaaaaaaaa! heyyy!
semua senang bersama-sama

Kami Ada
lirik & lagu: Fajar

di pinggir-pinggir jalan
di kolong-kolong jembatan
tersimpan harapan
senyum dan air mata

meski selalu terlupakan
di tengah debu jalanan
di antara sombongnya kota
yang penuh kebosanan

menantang mentari, kepalkan jemari
jalani hari dengan ‘amor fati’
nyalakan api cinta dan harapan yang membara
tunjukkan pada dunia bahwa kita ada!

panas terik mentari
sinari hari ini
keringat yang mengucur deras
basahi tubuh ini

nada-nada sederhana
dari sebuah gitar tua
menyaingi bisingnya kota
dan deru knalpot kendaraan

sudah lupakan semua caci maki mereka
persenjatai diri dengan cinta
genggam erat tanganku kita berjalan bersama
tunjukkan pada dunia bahwa kita ada!

***

  • * Meski sekarang saya ga suka-suka banget Superman is Dead, tapi SID bisa dibilang sebagai gerbang menuju pencerahan hidup saya
  • Bagi kawan-kawan yang tertarik mengundang kami untuk tampil di acara kalian, silahkan kontak kami saja. insyaallah kami akan datang dengan senang hati!

(Subcomandante Fajar)